Profil

PERIMA (Persatuan Ibu-ibu Masehi) didirikan oleh kaum ibu Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) pada tahun 1947. KGPM diproklamasikan pada tanggal 29 Oktober 1933 sebagai Gereja yang merdeka lepas dari Indische Kerk dibawah pemerintahan Belanda. Pimpinan dan jemaat KGPM sejak semula memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan telah ikut aktif dalam Peristiwa Merah-Putih 14 Pebruari 1946, yaitu Proklamasi bahwa Sulawesi Utara bergabung dengan Republik Indonesia yang saat itu berpusat di Yogyakarta. Setidak-tidaknya ide Minahasa sebagai Propinsi ke-12 dari negara Belanda terbantah. Akibatnya Pimpinan KGPM dipenjarakan Belanda dan kaum pria di KGPM dilarang dan ditekan untuk tidak melakukan kegiatan. Kontinuitas perjuangan KGPM menurun. Ibu-ibu KGPM kemudian terpanggil untuk mengatasinya. Mereka membentuk Organisasi PERIMA dengan Pengurus Pusat dan cabang-cabangnya di sekitar 100 Sidang, termasuk di Jakarta. Di samping giat dalam pendidikan dan kesehatan (antara lain mendirikan Rumah Sakit di Kawangkoan Minahasa) Pengurus Pusatnya pada hari Minggu beribadah berkeliling di sidang-sidang, untuk mendorong semangat juang bapak, ibu, dan pemuda demi kemerdekaan bangsa.

Setelah Pemerintahan RI pindah ke Jakarta, PERIMA di Jakarta, bersama-sama organisasi wanita lainnya, mendirikan BPOW (Badan Penghubung Organisasi-organisasi Wanita) Jakarta, dan aktif dalam bidang pendidikan dan ketrampilan serta pendirian dan pembinaan Perpustakaan.

Enam puluh (60) tahun kemudian, di tahun 2007, generasi penerusnya, yang anggotanya tidak lagi terbatas pada kaum ibu KGPM, menghadapi makin maraknya perdagangan (trafiking) manusia. Kejahatan ini membelenggu kemerdekaan manusia, menginjak harkat dan martabat manusia,yang sesungguhnya adalah Citra dan bait Allah dan bait Roh Kudus. Undang-undang No.21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Perdagangan Orang telah dibentuk DPR dan Pemerintah. PERIMA terpanggil untuk berpartisipasi dalam upaya pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi korban trafiking manusia ini.

Dari pengalaman selama ini beberapa korban trafiking perempuan dan anak telah dapat diselamatkan oleh dan melalui gereja setempat, perkumpulan atau kerukunan warga sedaerah di Jakarta, dan beberapa pemuka agama. Tercatat pula beberapa kasus yang upaya penyelamatannya gagal karena menghadapi berbagai kendala.

Berbagai kegiatan berkenaan dengan trafiking perempuan dan anak di SULUT, telah diikuti sebgai peserta dan pembicara oleh anggota PERIMA, Prof. L.M.Gandhi-Lapian SH antara lain

  1. Lokakarya Penghapusan Trafiking Perempuan dan Anak di Manado, kerjasama Convention Watch UI dan Kejaksan Tinggi SULUT melalui Kejaksaan Agung (2004).
  2. Lokakarya Koordinasi Kegiatan Penghapusan Trafiking Perempuan dan Anak antar PEMDA, Penegak Hukum, dan LSM dibiayai PEMDA SULUT Biro Pemberdayaan Perempuan dan Yayasan SOFIANA (2005)
  3. Lokakarya Satuan Tugas Anti Trafiking Perempuan dan Anak Instansi PEMDA SULUT dan Universitas Negeri di SULUT.

Lokakarya ini memutuskan untuk menyelenggarakan sosialisasi di tiga desa sebagai pilot proyek (2005).

  1. Lokalatih Penghapusan Trafiking Perempuan dan Anak: Pencegahan, Penanganan, dan Pemulihan Korban Trafiking di SULUT, diadakan di tiga desa yaitu Kinali dan Kiawa II (Kawangkoan) dan Talete I (Tomohon), Kerjasama Convention Watch UI, PEMDA SULUT Biro Pemberdayaan Perempuan, dan Yayasan Sofiana (2005)
  2. Seminar ”Child Traficking” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNSRAT (2006)
  3. Seminar Sehari Sosialisasi Buku Trafiking Perempuan dan Anak, Penanggulangan Komprehensif: Studi Kasus Sulawesi Utara, diselenggarakan Tim Penggerak PKK SULUT (2007).
  4. Sosialisasi mengenai Penghapusan Trafiking Orang, khususnya Perempuan dan Anak, kepada penegak hukum dan di beberapa gereja serta kalangan gereja.

PERIMA merasa perlu untuk megupayakan penguatan dan pemberdayaan komunitas desa (dasa wisma), gereja (kolom, kepel, pemuda dan lain-lain), untuk mencegah, menangani, dan pemulihan (calon) korban trafiking orang.

Undang-undang No.21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang telah pula menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi korban trafiking.

Menimbang hal-hal tersebut di atas, maka PERIMA dalam rangka memperingati HUT-nya ke-60, pada tanggal 27 Oktober 2007, telah menyelenggarakan pertemuan sehari untuk memfasilitasi DIALOG antar kerukunan-kerukunan dari berbagai wilayah di SULUT yang ada di Jakarta. Fokus DIALOG adalah partisipasi dalam pencegahan, penanganan, dan pemulihan korban trafiking orang, bekerjasama dengan komunitas-komunitas di SULUT.

Agar Dialog lebih berhasilguna maka penyelenggaraanya dilakukan bekerjasama dengan KERUKUNAN KELUARGA KAWANUA (K3), Generasi Penerus Perjuangan Merah-Putih 14 PEBRUARI 1946, dan PEMUDA KAWANUA di Jakarta.

Dalam rangka peringatan 100 tahun alm. Ibu M.A.Lapian-Pangkei (8 Juni 1908 – 30 Mei 2003), Pendiri dan Ketua PERIMA, maka pada tanggal 31 Mei 2008 di Kebayoran telah diadakan diskusi ”Upaya mengakhiri kekerasan berbasis gender, bersama-sama dengan PIKAT dan SAHATI Kebayoran, dan beberapa peminat antara lain dari beberapa pendeta. Diskusi berkisar pada Kekerasan Berbasis Gender, termasuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Trafiking atau Perdagangan Perempuan dan Anak, serta peran gereja untuk mencegah, menangani, dan mengakhirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: