Misi

Mengapa PERIMA Prihatin Dengan Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan (Prof. Dr. Louise Gandhi – Lapian)

1. Dari berbagai paparan dalam Konperensi Regional di Bangkok 3-4 September 2007 tentang Pria Sebagai Mitra Untuk Mengakhiri Kekerasan Terhadap Perempuan (Men as Partners to End Violence Against Women), terungkap data sebagai berikut:

– Sekurang-kurangnya 1 dari 3 perempuan di dunia telah mengalami kekerasan fisik, seksual, psikologis dan ekonomi oleh seorang pria dalam hidupnya.

– Lebih dari 20% perempuan dilaporkan mengalami kekerasan oleh suami atau pria dalam rumah tangga.

– Lebih dari 20% perempuan dilaporkan mengalami kekerasan oleh suami atau pria dalam rumah tangga.

– Di antara perempuan berumur 15-44 tahun korban kekerasan yang berakibat kematian dan cacat jumlahnya lebih besar dari jumlah gabungan penyakit kanker, malaria, kecelakaan lalulintas, dan peperangan.

– Perdagangan (Trafiking) perempuan dan anak untuk eksploitasi seksual amat biasa di kalangan miskin.

– Perempuan korban KDRT 12 kali cenderung mencoba bunuh diri.

2. Fakta menunjukan bahwa dalam masyarakat dunia termasuk Indonesia masih terjadi tindakan serupa perbudakan dan tindakan trafiking manusia terutama perempuan dan anak. Data trafiking perempuan dan anak malahan menunjukan trend yang meningkat seiring dengan peningkatan sarana transportasi, kecanggihan sarana elektronik, globalisasi, kalahnya hati nurani terhadap keuntungan finansial komersialisasi, dan sebagainya.

3. Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam tahun 1997 memperkirakan bahwa pelaku, mucikari, penyelundup, dan koruptor (pejabat pemerintah dan penegak hukum) yang terlibat dalam trafiking manusia telah meraup keuntungan US$ 7 Milyar dari kegiatan ini (The United Nations Development Fund for Women – UNIFEM-East and South East Asia Regional Office, Bangkok) dan the UN Inter-agency Project on Human Trafficking in the Mekong Sub Region Briefing Kit “Trafficking in Persons: a Gender and Rights Perpective”). Dalam Briefing Kit ini diutarakan juga trend dalam trafiking manusia khususnya perempuan dan anak, yaitu:

– Makin meluas dan bertambah besar

– Bertambah tempat baru untuk sumber dan tujuan

– Mekanisme yang canggih dan beragam

– Beraneka macam tujuan

– Perubahan profil korban trafiking

– Berkembangnya dan makin erat hubungan antara jaringan trafiking dan jaringan politik, industri dan bisnis.

– Meningkatnya keuntungan dengan resiko yang kecil bahkan tanpa resiko

– Pelanggaran besar terhadap Hak Asasi Manusia demi akumulasi uang

4. Data lain dapat disimak dalam “Nightmare in border areas, 2004” yang mengutarakan hal berikut. PBB memperkirakan bahwa dalam 30 tahun terakhir, 30 juta perempuan dan anak telah menjadi korban trafiking dan eksploitasi (Tempo Interaktif, 6 Mei 2003) di antaranya 2 juta setiap tahun adalah korban eksploitasi seksual dan trafiking (Unicef). Di Asia Tenggara sendiri, setiap tahun 200.000 perempuan adalah korban trafiking menurut UN Commissioner on Human Rights, Mary Robinson (Nakertrans, Agustus 2002), sedangkan US State Department memperkirakan 225.000 perempuan dan anak adalah korban trafiking di Asia Tenggara (Briefkit Unifem). KOMNAS Perempuan Indonesia mencatat dalam tahun 1999, sebanyak 1712 kasus trafiking perempuan yang dilaporkan dan ditangani polisi, di antaranya 1390 kasus diajukan ke Pengadilan. Dalam tahun 2000, terungkap 1683 kasus dan 1094 diantaranya sampai Pengadilan (KOMNAS Perempuan 2002)

Namun amat kurang informasi yang ada mengenai tujuan dan proses selanjutnya trafiking perempuan dan anak tersebut.

5. Suatu studi tentang trafiking manusia dengan tujuan prostitusi mengungkapkan bahwa cukup besar jumlah anak yang dipaksa bekerja dalam prostitusi. Perwakilan NGO UN CRC menyatakan bahwa 30% dari mereka yang dipaksa bekera dalam prostitusi anak. Dalam tahun 1998 UNICEF memperkirakan prostitusi anak di Indonesia berkisar antara 40.000-70.000 anak. Permintaan akan anak-anak untuk prostitusi diperkirakan makin meningkat karena asumsi bahwa anak-anak lebih kurang resikonya terhadap terinfeksi STDs dan HIV/AIDS.

Dalam Blog PERIMA ini akan dimuat tulisan-tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak, diawali dengan Kekerasan Dalam Keluarga dan Rumah Tangga (KDRT) mengingat lembaga keluarga ini merupakan lembaga tempat pendidikan pertama dan utama.

Pangkal tolak kerangka berpikiri di sini adalah bahwa kekerasan diajarkan dan disosialisasikan kepada pelaku kekerasan, karenanya seharusnya dapat pula dicegah dan diakhiri melalui pendidikan dan sosialisasi. Dalam KDRT tercakup pula Kejahatan Trafiking perempuan dan anak, karena ternyata kekerasan ini dilakukan juga dalam rumah tangga, oleh anggota keluarga, bahkan orangtua korban.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: