Peran Pria Mencegah dan Mengakhiri Kekerasan terhadap Perempuan

PERAN PRIA MENCEGAH DAN MENGAKHIRI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN (Prof. Dr. Louise Gandhi – Lapian)

1. Berpegang pada makna kekerasan berbasis gender seperti tersebut di muka, maka pendekatan dalam upaya mencegah dan mengakhiri kekerasan terhadap perempuan niscaya melibatkan kaum pria.
– Penggunaan istilah ”kekerasan berbasis gender” membantu
dalam mengkaji dan memahami fakta kekerasan terhadap perempuan
– Fokus bukan lagi pada perempuan sebagai korban, tetapi beralih pada hubungan kekuasaan antar gender pria dan gender perempuan, yaitu hubungan yang tercipta dan dilanggengkan oleh stereotip atau pencitraan perempuan misalnya lemah lembut dan pria misalnya kuat dan perkasa. Pencitraan demikian telah menjadi dasar sebabnya kekerasan terhadap perempuan.
– Jadi dengan barpangkal tolak pada makna kekerasan berbasis gendar maka yang memerlukan perhatikan bukan hanya perempuan korban KDRT tetapi juga pelaku kekerasan yang biasanya pria
– Patut disadari bahwa hanya sebagian kecil dari jumlah pria yang berperilaku menyimpang dan melakukan kekerasan. Sebagian besar pria tidak melakukannya dan tidak menyetujuinya, namun selama ini hanya berdiam diri, dan tidak menyadari bahwa perannya amat penting dalam menangani sesama pria yang melakukan kekerasan
– Namun dewasa ini makin bertambah kuantitas dan kualitas pria yang peduli dan yang ikut aktif mencegah dan mengakhiri kekerasan berbasis gender. Sebelumnya, mereka pada umumnya menganggap kekerasan terhadap perempuan seperti KDRT adalah urusan perempuan.

2. Dengan berfokus pada pencitraan perempuan dan pria, maka fokus perhatian dan penanganan bukan lagi pada kasus demi kasus kekerasan atau yang dilakukukan individu pelaku. Dalam melakukan analisa, sekarang kita dapat memfokuskan perhatian pada budaya, kebiasaan dan pendidikan serta sosialisasi, yang telah menciptakan peran pria dan perempuan, dan pencitraan yang disebut masyarakat maskulin atau macho dan feminin.

3. HUBUNGAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DENGAN
MASKULINITAS DAN FEMININITAS.
– Persepsi tentang maskulinitas dan feminibitas dibentuk sejak anak berumur 2 tahun
– Ada ciri pria dan perempua yang memang kodrati seperto organ tubuh, fungsi melahirkan, namun banyak banyak ciri yang oleh masyarakat disebut kodrat, tetapi sesungguhnya bukan kodrati seperti ciri perkasa, harus bekerja di luar rumah mencari nafkah bagi macho dan lemah lembut, urus rumahtangga bagi feminin. Citra ini dikembangkan dalam masyarakat.
– Oleh karena itu perlu dianalisa dan ditantang budaya yang menciptakan peran dan identitas pria yang disebut macho dan perempuan yang disebut feminin.
– Ini berarti bahwa kita perlu mengenal berbagai tekanan yang dihadapkan pada pria seperti harus macho, yang ternyata dapat mengakibatkan timbulnya sifat dan reaksi kekerasan pada pria. Demikian pula berbagai tekanan pada perempuan untuk harus feminin, jangan membantah walau pun ia benar, dan ”nrimo” nasib
– Sekaligus ditantang dan dikritisi budaya patriarkhi yang telah berkembang bermilenium lamanya.

4. LANGKAH TINDAK SELANJUTNYA
Dari uraian di muka dapat disimpulkan, bahwa:
– Kekerasan dibentuk, dicipta, diajarkan dan dipelajari, dan disosialisasikan dalam keluarga, oleh pemuka agama, di sekolah, dan masyarakat. ,
– Jadi kekerasan dapat dihapus dan dicegah melalui pendidikan dan sosialisasi dalam keluarga, oleh pemuka agama, di sekolah, dan masyarakat.
– Termasuk dalam pendidikan dan sosialisasi ini adalah pencitraan pria yang anti kekerasan dan perempuan yang jangan ”nrimo” kekerasan begitu saja.
– Upaya ini merupakan dasar pemberdayaan pria dan perempuan untuk menciptakan kesetaraan dan keadilan gender dalam masyarakat.
– Pendidikan disiplin dengan cemeti atau kekerasan sudah tidak sesuai. Era dewasa ini menunjukan terjadinya perobahan nilai bukan lagi ”otot” dan ”ancaman kekerasan” tetapi ”watak” dan ”soft power”
– Peran agama amat penting dalam upaya ini, seperti juga disimpulkan dari Konperensi Regional di Bangkok dan berbagai seminar di dalam negeri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: